Prof. Iskandar Nazari (Guru Besar Pendidikan UIN Sutha Jambi _Founder Ruhiologi)
Krisis kepemimpinan dalam institusi pendidikan kontemporer sering kali berakar pada reduksi peran pemimpin menjadi sekadar administrator teknis atau manajer operasional yang terjebak dalam belenggu birokrasi dan pencitraan formalistik. Institusi pendidikan, yang secara hakikat merupakan ruang pembentukan jiwa dan persemaian nilai, memerlukan paradigma kepemimpinan yang melampaui batas-batas materialistik dan antroposentris. Dalam konteks ini, integrasi antara kepemimpinan profetik dan paradigma Ruhiologi menawarkan kerangka kerja yang radikal namun fundamental untuk mengembalikan pendidikan pada fitrahnya sebagai proses pembebasan dan pencerahan ruhani manusia (Iskandar, 2022; Fadliah, 2022; Pamungkas et al., 2021).
Ruhiologi memandang ruh bukan sekadar entitas metafisika yang terpisah dari realitas sosiologis, melainkan sebagai pusat gravitasi kesadaran, sumber energi makna, dan basis dari segala potensi kecerdasan manusia (Iskandar, 2022). Kepemimpinan pendidikan dalam perspektif ini tidak lagi dipandang sebagai instrumen kekuasaan, melainkan sebagai kontrak ilahiyah yang bertujuan untuk menghidupkan ruh organisasi melalui aktivasi empat sifat kenabian: sidiq, amanah, tabligh, dan fatanah (Thoyibah & Hajizah, 2025; Syafei et al., 2025). Arsitektur kepemimpinan ini bekerja sebagai mekanisme penggerak kesadaran kolektif yang mampu mentransformasi budaya sekolah menjadi ekosistem religius yang autentik dan berdaya saing global (Thoyibah & Hajizah, 2025; Sahri et al., 2021).
Landasan Ontologis Ruhiologi dalam Psikologi Pendidikan
Memahami kepemimpinan profetik menuntut pemahaman mendalam tentang hakikat manusia dalam perspektif Ruhiologi. Berbeda dengan paradigma psikologi Barat yang cenderung bersifat antroposentris dan netral etik, Ruhiologi menempatkan ruh sebagai dimensi jiwa manusia yang bernuansa ilahiyah dan memiliki hubungan kepemilikan langsung dengan Sang Pencipta (Fitria & Salik, 2023; Karina & Isnaeniah, 2021). Dalam struktur kepribadian manusia, Ruhiologi mengidentifikasi tiga dimensi utama yang saling berinteraksi: al-jismiah (fisik-biologis), al-nafsiyah (psikis-emosional), dan al-ruhaniah (spiritual-ilahiyah) (Fitria & Salik, 2023).
Ruh merupakan unsur independen di dalam jasad manusia yang berfungsi sebagai penerima proses transfer nilai-nilai holistik dari Tuhan (Iskandar, 2022). Ia adalah jawaban atas tempat dan sumber segala potensi kecerdasan, yang dalam literatur modern disebut sebagai Ruhiology Quotient (RQ) atau kecerdasan ruhani (Iskandar, 2022). RQ diposisikan sebagai sumber dari semua kecerdasan manusia karena memiliki kemampuan untuk merasakan dan menangkap hakikat kebenaran melampaui batas intelektual semata (Iskandar, 2022). Kecerdasan ini membimbing dan mengintegrasikan Intellectual Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), dan Spiritual Quotient (SQ) menuju pencapaian tujuan pendidikan secara holistik (Iskandar, 2022; Syamsuddin, 2023).
Taksonomi Kecerdasan dalam Paradigma Ruhiologi
| Jenis Kecerdasan | Basis Operasional | Manifestasi dalam Organisasi | Fungsi Ruhiologis |
| Intellectual Quotient (IQ) | Akal dan Logika | Efisiensi administratif, penguasaan kurikulum, dan data teknis. | Pengetahuan Jasmani (Iskandar, 2022; Damariswara et al., 2021) |
| Emotional Quotient (EQ) | Perasaan dan Empati | Hubungan antarmanusia, manajemen konflik, dan stabilitas emosi. | Harmonisasi Sosial (Karina & Isnaeniah, 2021; Damariswara et al., 2021) |
| Spiritual Quotient (SQ) | Nilai dan Makna | Visi moral, pencarian makna, dan orientasi nilai-nilai keagamaan. | Navigasi Etis (Iskandar, 2022; Damariswara et al., 2021) |
| Ruhiology Quotient (RQ) | Ruh (Cahaya Ilahi) | Kesadaran transendental, integritas ontologis, dan energi makna. | Sumber Segala Kecerdasan (Iskandar, 2022) |
Keberadaan ruh memberikan vitalitas pada kehidupan manusia; ketiadaannya mengakibatkan manusia kehilangan makna eksistensialnya (Iskandar, 2022). Dalam konteks pendidikan, Ruhiologi menekankan bahwa proses transfer ilmu tidak boleh hanya menyentuh aspek kognitif (al-nafsiyah), tetapi harus mampu melakukan penetrasi ke pusat terdalam manusia, yaitu ruh, agar ilmu tersebut berubah menjadi cahaya (nur) yang membimbing perilaku dan karakter (Iskandar, 2022; Nurul Aisyah et al., 2024). Tanpa aktivasi dimensi ruhani, pendidikan hanya akan menghasilkan teknokrat yang cerdas secara kognitif namun kering secara spiritual, sebuah kondisi yang disebut sebagai krisis spiritualitas dalam pendidikan modern (Iskandar, 2022).
Konstruksi Empat Pilar Profetik sebagai Arsitektur Kepemimpinan
Kepemimpinan profetik didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk memengaruhi orang lain guna mencapai tujuan kolektif dengan meneladani sifat-sifat para nabi dan rasul (Ardiansyah et al., 2023; Fadliah, 2022). Model ini tidak hanya bersifat horizontal-formal (hablun minannas), tetapi juga vertikal-moral (hablun minallah), di mana setiap tindakan kepemimpinan diposisikan sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan (Pamungkas et al., 2021; Fadliah, 2022). Empat pilar utama kepemimpinan ini sidiq, amanah, tabligh, dan fatanah—bekerja secara sinergis sebagai arsitektur yang menghidupkan ruh organisasi (Thoyibah & Hajizah, 2025; Sahri et al., 2021).
Sidiq: Kejernihan Ruh dan Integritas Ontologis
Sidiq, yang sering diterjemahkan sebagai kejujuran, dalam perspektif Ruhiologi dimaknai sebagai kejernihan ruh atau integritas ontologis (Thoyibah & Hajizah, 2025; Sari et al., 2021). Ini adalah keselarasan mutlak antara nilai-nilai ketuhanan yang ada dalam ruh pemimpin dengan ucapan dan tindakannya dalam mengelola lembaga pendidikan (Ardiansyah et al., 2023; Syafei et al., 2025). Pemimpin yang sidiq tidak hanya berorientasi pada hasil akhir, tetapi sangat memperhatikan kebenaran proses karena ia sadar bahwa setiap kebohongan akan menutupi kejernihan ruhani organisasi (Iskandar, 2022; Darmawan, 2025).
Dalam praktiknya, sidiq termanifestasi dalam kebijakan sekolah yang transparan dan evaluasi yang objektif. Pemimpin yang memiliki sifat sidiq akan menolak segala bentuk rekayasa laporan keuangan atau manipulasi data akademik demi pencitraan (Syafei et al., 2025; Nassution & Rohmah, 2025). Dari perspektif Ruhiologi, ketika seorang pemimpin memiliki kejernihan ruh (sidiq), aura kejujuran tersebut akan memancar dan memengaruhi iklim organisasi secara keseluruhan. Inilah yang menjadi fondasi kepercayaan (foundation of trust) yang memungkinkan budaya religius tumbuh secara autentik, bukan sekadar simbolik (Sari et al., 2021; Syafei et al., 2025).
Amanah: Kepemimpinan sebagai Tanggung Jawab Eksistensial
Amanah dalam kepemimpinan profetik melampaui definisi profesionalisme sekuler. Ia adalah kesadaran eksistensial bahwa jabatan pemimpin pendidikan adalah titipan (amanah) dari Tuhan yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat (Syafei et al., 2025; Ardiansyah et al., 2023). Dalam Ruhiologi, amanah dipandang sebagai ekspresi kesadaran bahwa manusia selalu diawasi oleh Allah (muraqabah), yang kemudian membangun kepercayaan kolektif di sekolah (Ardiansyah et al., 2023; Maktumah & Minhaji, 2020).
Implementasi amanah di lembaga pendidikan mencakup distribusi tugas yang adil berdasarkan kompetensi (the right man on the right place) dan pengelolaan anggaran yang transparan (Syafei et al., 2025; Machali & Hidayat, 2016). Akuntabilitas ruhani ini mendorong pemimpin untuk menghindari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme karena ia merasa bahwa setiap keputusan memiliki dimensi pertanggungjawaban moral di hadapan Sang Pencipta (Pamungkas et al., 2021; Syafei et al., 2025). Amanah menciptakan struktur organisasi yang solid di mana setiap anggota merasa aman karena dipimpin oleh sosok yang bertanggung jawab penuh (Syafei et al., 2025).
Tabligh: Mekanisme Komunikasi yang Menginternalisasi Kesadaran
Tabligh bukan sekadar aktivitas menyampaikan informasi, melainkan kemampuan untuk mengomunikasikan nilai-nilai luhur secara efektif, inspiratif, dan persuasif (Thoyibah & Hajizah, 2025; Syafei et al., 2025). Dalam perspektif Ruhiologi, tabligh adalah jembatan yang menghubungkan visi spiritual pemimpin dengan hati para pengikutnya. Nilai-nilai religius tidak akan terinternalisasi melalui instruksi administratif yang kaku, melainkan melalui dialog yang menyentuh ruh dan keteladanan nyata (Thoyibah & Hajizah, 2025).
Pemimpin yang menjalankan prinsip tabligh akan menerapkan manajemen terbuka (open management), di mana ia bersedia mengakui kekeliruan dan terbuka terhadap kritik (Pamungkas et al., 2021; Thoyibah & Hajizah, 2025). Komunikasi profetik ini memanfaatkan teknologi digital sebagai media untuk menyebarkan pesan-pesan kebaikan dan bimbingan moral, sehingga visi sekolah dapat dipahami dan dihayati oleh seluruh sivitas akademika (Fadliah, 2022; Thoyibah & Hajizah, 2025). Tabligh memastikan bahwa nilai-nilai organisasi tidak hanya berhenti di level dokumen, tetapi menjadi energi makna yang menggerakkan kesadaran kolektif (Syafei et al., 2025).
Fatanah: Kecerdasan Strategis yang Menjaga Relevansi
Fatanah merepresentasikan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual yang memungkinkan pemimpin untuk menavigasi kompleksitas tantangan zaman, seperti era disrupsi dan Society 5.0 (Sahri et al., 2021; Syafei et al., 2025). Dalam paradigma Ruhiologi, fatanah adalah kemampuan ruh untuk menangkap ilham dan hikmah guna mengambil keputusan yang tepat di tengah ketidakpastian (Iskandar, 2022; Syafei et al., 2025).
Pemimpin yang fatanah mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai iman tanpa terjebak dalam dikotomi yang sempit (Thoyibah & Hajizah, 2025; Fadilah, 2023). Ia adalah inovator yang mampu memanfaatkan teknologi pendidikan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, namun tetap menjaga agar teknologi tersebut tidak menggerus sisi kemanusiaan dan spiritualitas siswa (Fadliah, 2022; Thoyibah & Hajizah, 2025; Iskandar, 2025). Fatanah memastikan bahwa nilai religius tetap relevan dan memiliki daya hidup di tengah dinamika sosial yang cepat (Sahri et al., 2021; Nurul Aisyah et al., 2024).
Kepemimpinan Profetik-Transformatif: Integrasi Nilai Kuntowijoyo
Model kepemimpinan profetik dalam pendidikan Islam diperkuat dengan tiga cita-cita profetik yang dirumuskan oleh Kuntowijoyo: humanisasi, liberasi, dan transendensi (Pamungkas et al., 2021; Kuntowijoyo, 2006). Ketiga nilai ini menjadi orientasi dasar bagi pemimpin dalam menjalankan peran manajerialnya agar selaras dengan misi kenabian (Pamungkas et al., 2021; Kuntowijoyo, 2006).
Kerangka Nilai Profetik Kuntowijoyo dalam Pendidikan
| Nilai Utama | Deskripsi Filosofis | Aplikasi dalam Kepemimpinan Sekolah |
| Humanisasi | Menghargai martabat manusia dan mengembalikannya pada fitrah spiritual. | Pemberdayaan potensi guru dan siswa tanpa eksploitasi; kepedulian dan kasih sayang. (Pamungkas et al., 2021) |
| Liberasi | Membebaskan manusia dari kebodohan, kemiskinan, dan penindasan. | Inovasi kurikulum untuk memecahkan kebekuan berpikir; perlawanan terhadap ketidakadilan sistemik. (Pamungkas et al., 2021) |
| Transendensi | Mengarahkan semua tindakan pada otoritas Tuhan dan makna ukhrawi. | Visi sekolah yang berorientasi pada ridha Allah; integrasi dzikir dan pikir dalam setiap aktivitas. (Pamungkas et al., 2021) |
Humanisasi bertujuan untuk melawan dehumanisasi yang sering terjadi dalam sistem pendidikan mekanistik (Pamungkas et al., 2021). Liberasi bertugas membebaskan sivitas akademika dari belenggu materialisme dan pragmatisme sempit (Pamungkas et al., 2021). Sementara transendensi menjadi jangkar spiritual yang memastikan bahwa humanisasi dan liberasi tidak terjebak menjadi gerakan sekuler semata, melainkan memiliki dimensi ibadah (Pamungkas et al., 2021). Integrasi ketiga nilai ini membentuk kepemimpinan yang tidak hanya efektif secara organisasi, tetapi juga mencerahkan secara spiritual (Pamungkas et al., 2021).
Ruhiologi Quotient (RQ) sebagai Energi Penggerak Organisasi
Kecerdasan Ruhiologi (RQ) merupakan pembeda utama antara kepemimpinan profetik dengan model kepemimpinan administratif konvensional. RQ didasarkan pada ruh yang berfungsi sebagai sumber energi makna (Iskandar, 2022). Tanpa RQ yang matang, seorang pemimpin pendidikan mungkin memiliki IQ tinggi untuk mengelola data dan EQ baik untuk bergaul, namun ia akan gagal dalam memberikan arah makna bagi organisasinya (Iskandar, 2022).
Dalam perspektif Ruhiologi, ruh manusia memiliki potensi untuk menerima cahaya ilahi yang menjadi sumber inspirasi dan kebijaksanaan (Iskandar, 2022). Pemimpin dengan RQ tinggi mampu merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap detak organisasi, sehingga tindakannya mencerminkan sifat-sifat ketuhanan yang terbatas, seperti adil, kasih, dan bijaksana (Pamungkas et al., 2021; Fadliah, 2022). Energi makna yang terpancar dari pemimpin ini akan menular kepada seluruh staf, menciptakan iklim kerja yang penuh semangat karena setiap orang merasa sedang menjalankan misi suci, bukan sekadar bekerja mencari nafkah (Syafei et al., 2025; Thoyibah & Hajizah, 2025).
Integrasi Kepemimpinan Profetik dalam Fungsi Manajemen Pendidikan
Untuk menjadikannya model yang operasional, kepemimpinan profetik harus diintegrasikan ke dalam fungsi manajemen konvensional POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling). Integrasi ini mengubah manajemen sekolah dari sekadar urusan teknis menjadi proses yang menghidupkan makna (Syafei et al., 2025).
Matriks Operasionalisasi Nilai Profetik dalam Fungsi POAC
| Fungsi Manajemen | Sifat Profetik Dominan | Implementasi Praktis di Sekolah |
| Planning (Perencanaan) | Sidiq | Penyusunan visi dan program kerja yang jujur, realistis, dan bebas dari agenda tersembunyi. (Syafei et al., 2025) |
| Organizing (Pengorganisasian) | Amanah | Pendelegasian tugas berdasarkan kepercayaan dan kompetensi; penempatan SDM yang adil. (Syafei et al., 2025) |
| Actuating (Pelaksanaan) | Tabligh | Penggerakan staf melalui komunikasi inspiratif, keteladanan nyata, dan bimbingan moral terbuka. (Syafei et al., 2025; Thoyibah & Hajizah, 2025) |
| Controlling (Pengawasan) | Fatanah | Evaluasi yang cerdas, objektif, dan transparan; pengambilan keputusan strategis. (Syafei et al., 2025) |
Dalam tahap perencanaan, sifat sidiq memastikan bahwa visi sekolah benar-benar mencerminkan kebutuhan ruhani siswa, bukan sekadar jargon untuk menarik minat pendaftar (Syafei et al., 2025). Pada tahap pengorganisasian, amanah menjadi landasan bagi terbangunnya tim kerja yang solid karena setiap orang merasa dipercaya dan dihargai sesuai kompetensinya (Syafei et al., 2025; Thoyibah & Hajizah, 2025). Pada tahap pelaksanaan, tabligh berperan sebagai energi komunikasi yang menggerakkan seluruh sivitas akademika dengan narasi yang menyentuh hati (Syafei et al., 2025). Terakhir, dalam pengawasan, fatanah memungkinkan pemimpin untuk melakukan refleksi yang mendalam dan melakukan adaptasi strategis terhadap perubahan zaman (Syafei et al., 2025).
Perbedaan Kepemimpinan Profetik-Transformatif dan Konvensional
Penting untuk membedakan secara tegas antara model kepemimpinan yang berakar pada paradigma Ruhiologi dengan model administratif konvensional agar tidak terjadi reduksi makna profetik menjadi sekadar label religius formal (Darmawan, 2025).
Analisis Komparatif Paradigma Kepemimpinan
| Aspek | Kepemimpinan Konvensional/Administratif | Kepemimpinan Profetik-Ruhiologis |
| Sumber Otoritas | Otoritas legal-formal, birokrasi, dan kontrak kerja. | Wahyu Allah, teladan Nabi, dan otoritas spiritual (RQ). (Darmawan, 2025) |
| Orientasi Utama | Efisiensi, efektivitas, profit, dan citra lembaga. | Kemaslahatan umat, pemberdayaan ruhani, dan ridha Allah. (Darmawan, 2025; Maktumah & Minhaji, 2020) |
| Pandangan Manusia | Sumber daya/aset organisasi yang harus dioptimalkan. | Khalifah Allah yang memiliki potensi spiritual tak terbatas. (Pamungkas et al., 2021; Darmawan, 2025) |
| Basis Etika | Etika bisnis/profesional yang bersifat situasional. | Etika profetik yang bersifat absolut dan transendental. (Darmawan, 2025) |
| Dampak pada Ruh | Cenderung mengabaikan atau hanya menyentuh permukaan. | Fokus utama pada aktivasi dan pembersihan ruh organisasi. (Syafei et al., 2025; Darmawan, 2025) |
Kepemimpinan konvensional sering kali terjebak dalam status quo dan pemenuhan standar administratif semata (Darmawan, 2025). Sebaliknya, kepemimpinan profetik-transformatif selalu mendorong perubahan positif yang mendalam pada diri individu dan masyarakat (Darmawan, 2025). Pemimpin profetik menginspirasi pengikutnya untuk mencapai potensi terbaik mereka sebagai hamba Allah, sehingga kinerja organisasi meningkat bukan karena tekanan eksternal, melainkan karena dorongan spiritual internal (Thoyibah & Hajizah, 2025; Maktumah & Minhaji, 2020).
Tantangan dan Peluang Kepemimpinan Profetik di Era Digital
Penerapan kepemimpinan profetik dalam perspektif Ruhiologi menghadapi tantangan yang unik di era digital. Generasi Z, yang menjadi subjek utama pendidikan saat ini, hidup dalam lingkungan yang sangat terhubung namun rentan terhadap krisis identitas dan kekeringan spiritual (Nurul Aisyah et al., 2024; Iskandar, 2025).
Dinamika Kepemimpinan di Era Disrupsi
-
Tantangan Moral: Banjir informasi dan media sosial membawa dilema moral yang kompleks, menuntut pemimpin memiliki fatanah yang tajam untuk memfilter nilai (Fadliah, 2022; Nurul Aisyah et al., 2024).
-
Krisis Spiritualitas: Kecepatan teknologi sering kali mengabaikan aspek kontemplatif manusia, sehingga pendidikan ruhiologi menjadi kebutuhan mendesak (Iskandar, 2022; Nurul Aisyah et al., 2024).
-
Peluang Digital: Teknologi digital dapat dimanfaatkan sebagai media dakwah dan komunikasi profetik yang luas (Fadliah, 2022; Syafei et al., 2025).
-
Fleksibilitas: Kepemimpinan profetik yang cerdas (fatanah) mampu beradaptasi dengan model pembelajaran baru tanpa kehilangan esensi pembentukan akhlak (Fadliah, 2022; Thoyibah & Hajizah, 2025).
Di era Society 5.0, pemimpin pendidikan harus mampu menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas (Thoyibah & Hajizah, 2025; Maktumah & Minhaji, 2020). Ruhiology Quotient membantu pemimpin untuk melihat teknologi bukan sebagai tujuan, melainkan sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan profetik yang lebih tinggi (Iskandar, 2025).
Implementasi Praktis: Langkah Operasional Kepala Sekolah
Untuk mewujudkan kepemimpinan profetik yang berbasis kesadaran ruhani, kepala sekolah perlu mengambil langkah-langkah konkret yang menyentuh seluruh ekosistem sekolah (Thoyibah & Hajizah, 2025; Chang, 2006).
Strategi Operasionalisasi Kepemimpinan Profetik
-
Memulai dari Diri Sendiri (Ibda’ binafsik): Pemimpin harus menjadi model pertama dari nilai-nilai profetik. Keteladanan (uswah) adalah bahasa ruh yang paling dipahami (Ardiansyah et al., 2023; Chang, 2006).
-
Transparansi dan Akuntabilitas: Mewujudkan sifat amanah melalui pengelolaan anggaran yang terbuka bagi orang tua dan masyarakat (Nassution & Rohmah, 2025; Syafei et al., 2025).
-
Budaya Komunikasi Islami: Menjalankan tabligh dengan membangun relasi yang penuh hikmah dengan guru, siswa, dan warga sekolah (Thoyibah & Hajizah, 2025; Mustamir, 2022).
-
Integrasi Spiritual dalam Kurikulum: Menanamkan nilai-nilai keimanan ke dalam seluruh aktivitas pembelajaran (Thoyibah & Hajizah, 2025; Iskandar, 2025).
-
Pemberdayaan SDM yang Humanis: Memberikan otonomi kepada guru untuk berkreasi sesuai keahliannya (Thoyibah & Hajizah, 2025).
Dengan langkah-langkah ini, sekolah tidak lagi dipandang sebagai pabrik lulusan, melainkan sebagai pusat keunggulan (center of excellence) yang melahirkan manusia berintegritas tinggi (Sahri et al., 2021).
Daftar Pustaka
Aisyah, N., Puspita, N., Sitepu, I. D. B., & Ananda, I. T. (2024). Menumbuhkan Generasi Berkarakter: Peran Penting Pendidikan Ruhiologi Di Era Digital. Perspektif Agama dan Identitas, 9(6), 148-151.
Ardiansyah, Hasri, S., & Sohiron. (2023). Implementasi Kepemimpinan Profetik Kepala Madrasah (Studi MTS Al Manar). Jurnal Pendidikan Dan Konseling, 5(2), 73-78.
Chang. (2006). Strategic Planning in Education: Planning for Success..
Damariswara, R., et al. (2021). Pengembangan Desain Pendidikan Karakter Berbasis Tiga Kecerdasan Manusia. Andragogi, 5(1), 107.
Darmawan, L. (2025). Kepemimpinan Profetik Dalam Meningkatkan Kualitas Lembaga Pendidikan Islam. Managerial Journal, 30-04-2025.
Fadilah. (2023). Kepemimpinan Transformasional dalam Pendidikan Islam. Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, 5(1), 133-142.
Fadliah, I. R. (2022). Kepemimpinan Profetik pada Lembaga Pendidikan di Era Disrupsi. JIIP – Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 5(12), 5713-5720.
Fitria, H., & Salik, M. (2023). Urgensi Psikologi Pendidikan Islami Dalam Pengajaran. Ihya Al-Anfal.
Iskandar. (2022). Pendidikan Ruhani Berbasis Kecerdasan Ruhiologi. El-Ghiroh: Jurnal Studi Keislaman, 20(1), 1-13.
Iskandar. (2025). Ruhiologi Paradigma baru Pendidikan Holistik Abad 21. Jambi: Samudra Inspirasi Ruhiologi.
Karina, Z., & Isnaeniah, E. (2021). Concept of Islamic Education Psychology. Gunung Djati Conference Series, 4, 123-129.
Kuntowijoyo. (2006). Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi, dan Etika. Tiara Wacana.
Machali, I., & Hidayat, A. (2016). The Handbook of Education Manajemen: Teori dan Praktek Pengelolaan Sekolah/Madrasah di Indonesia. Prenadamedia.
Maktumah, L., & Minhaji. (2020). Prophetic Leadership dan Implementasinya dalam Lembaga Pendidikan Islam. Jurnal Pendidikan Islam Indonesia, 4(2), 133-148.
Mustamir. (2022). Implementasi Tabligh dalam Pelaksanaan Manajemen Pendidikan..
Nassution, S. P., & Rohmah, S. (2025). Upaya Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru. Quantum Edukatif: Jurnal Pendidikan Multidisiplin.
Pamungkas, O., Diarsi, S., & Supandi, M. (2021). Model Kepemimpinan Profetik KH. Ahmad Dahlan dalam Pendidikan Islam. Masaliq, 1(3), 87-103.
Sahri, I., Fuadi, A., Tanzeh, D., & K. (2021). Implementation Of Prophetic Education In Building. Jurnal Studi Etnis Dan Budaya.
Sari, et al. (2021). Prinsip Sidhiq dalam Perencanaan Pendidikan..
Syafei, et al. (2025). Aktualisasi Pilar Kepemimpinan Profetik dalam Fungsi Manajerial. Indonesian Journal of Islamic Studies (IJIS), 1(2), 535-540.
Syafei, Z., Zohriah, A., Kurniawati, E., Suwenti, R., & Masdariah, E. (2025). Integrasi Nilai-Nilai Profetik dalam Praktik Kepemimpinan Pendidikan Islam di Era Disrupsi: Systematic Literature Review. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 14(2 Mei), 3419–3428.
Syamsuddin. (2023). Integrasi Kecerdasan Emosional dan Spiritual Mahasiswa. Andragogi.
Thoyibah, F. A., & Hajizah. (2025). Model Kepemimpinan Profetik Rasulullah dalam Konteks Kepemimpinan Transformasional Modern. IHSAN: Jurnal Pendidikan Islam, 3(3), 582-589.
Zainiyati, et al. (2020). Keterbukaan dan Budaya Organisasi yang Sehat..

