Oleh: Prof. Iskandar Nazari
Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN Sutha Jambi _Founder Ruhiologi
Paradoks Intelektualitas tanpa Realitas
Dunia pendidikan kontemporer menghadapi anomali besar; di tengah ledakan jumlah doktor dan guru besar, kualitas luaran pendidikan justru mengalami stagnasi. Akar persoalannya, sebagaimana dicermati oleh Prof. KH. Imam Suprayogo (2026), terletak pada dominasi “pendidikan kata-kata” di ruang kelas. Peserta didik terjebak dalam labirin verbalisme fasih membicarakan istilah, namun buta terhadap hakikat “benda” atau realitas yang diwakili oleh kata-kata tersebut.
Mencermati Kualitas Pendidikan oleh: Prof. KH. Suprayogo, (2026)
Dalam Islam, ketika seseorang berbicara maka harus diketahui bendanya. Tidak boleh berkata tanpa tahu benda yang dikata (Qur’an, an Nisa’:43). Orang berkata tanpa tahu benda yang dikata disebut sebagai orang mabuk. Dalam perspektif Ruhiologi, fenomena ini merupakan bentuk “kemabukan” intelektual.
Masih dalam ajaran Islam, siapa saja yang berkata harus mengerjakannya. Allah membenci orang yang berkata tapi tidak melaksanakannya ( Qur’an, al shaff: 2-3)
Tatkala mengerjakan sesuatu, al Qur’an mengajarkan agar mendasarkan pada ilmu. Seseorang diisebut telah berilmu ketika sudah melaksanakannya. Pentingnya ilmu disebut dlm al Qur’an.( Qur’an, mujadilah :11)
Pertanyaan yg cukup mendasar ttg pendidikan di negeri ini, ialah mengapa kualitas hasil pendidikan disebut tidak ada kemajuan dan bahkan akhir-2 ini dirasakan menurun. Padahal ahli pendidikan, baik S3 dan bahkan guru besar ilmu pendidikan semakin banyak.
Sepintas bisa dilihat bahwa pelaksanaan pendidikan di mana-2 di setiap jenjang, para siswa atau mahasiswa, pada setiap hari hanya diajak bicara atau diajak ngomong. Bahkan belum tentu, mereka tahu benda yang diomongkan. Kadang, omongan atau apa yg ditulis di dalam buku itulah yg diajarkan.
Padahal dalam Islam, sebagaimana disebutkan di muka, ketika seseorang ngomong maka harus tahu benda yang diomongkan. Bahkan omongannya harus segera dijalankan dengan mendasarkan pada ilmu.
Persoalannya menjadi jelas, yaitu bagaimana kualitas pendidikan berhasil dicapai sementara cara guru dalam mendidik kurang tepat. Para siswa dan mahasiswa sehari-hari hanya diajak bicara tanpa ditunjukkan benda yang dibicarakan.
Pendidikan hendaknya diluruskan, yaitu jangan hanya berkata atas kata tetapi hendaknya berkata atas benda. Di lembaga pendidikan hendaknya dihindari berkata tanpa tahu benda yang dikata. Mendidik hendaknya tidak hanya sibuk berkata tapi tidak tahu benda yang dikata. Lembaga pendidikan harus membiasakan berkata atas benda.
Iqra’ Bismi Rabbik: Epistemologi Berbasis Benda
Ruhiologi memandang krisis ini sebagai kegagalan dalam mengimplementasikan prinsip Iqra’ Bismi Rabbik. Al-Attas (1978) menegaskan bahwa de-sekularisasi ilmu pengetahuan harus dimulai dengan pengakuan bahwa wahyu pertama (QS. Al-`Alaq [96]:1) memerintahkan pembacaan realitas dengan kesadaran teosentris. Membaca (Iqra’) harus melibatkan “Nama Tuhan” (Bismi Rabbik) agar subjek mampu menembus selubung kata dan menangkap esensi benda di baliknya.
Oleh karena itu, transformasi pendidikan harus diarahkan dari sekadar “berkata atas kata” menjadi “berkata atas benda”. Lembaga pendidikan wajib mengondisikan siswa agar memahami ontologi dari setiap disiplin ilmu. Dengan mengetahui “benda” yang dikata, ilmu pengetahuan tidak lagi menjadi sekumpulan dogma abstrak, melainkan menjadi pemahaman yang memiliki wujud nyata dalam pengalaman hidup (Suprayogo, 2026).
Aktivasi God Light dan Implementasi Ilmu
Kualitas pendidikan sulit dicapai jika terjadi dikotomi antara retorika dan aksi. Dalam tradisi pemikiran Islam, seseorang baru dikategorikan berilmu (‘alim) apabila ia telah mengamalkan apa yang diketahuinya (Al-Ghazali, 1998). Prinsip ini dipertegas dalam QS. Ash-Shaff [61]:2-3 yang memberikan peringatan keras terhadap mereka yang mengatakan sesuatu yang tidak dikerjakan.
Ruhiologi hadir untuk memastikan bahwa sistem kognitif manusia dipandu oleh pancaran God Light (Nur Ilahiyyah). Melalui aktivasi God Spot, otak tidak lagi bekerja secara mekanistik-materialistik, melainkan digerakkan oleh Ruh untuk mengonversi ilmu menjadi amal saleh. Integrasi antara iman dan ilmu inilah yang dijanjikan Allah SWT akan mengangkat derajat manusia (QS. Al-Mujadilah [58]:11). Dengan demikian, setiap teori baik eksakta maupun sosial menjadi sarana pengabdian yang konkret, bukan sekadar komoditas akademis.
Menuju Pendidikan yang Menghidupkan
Pendidikan sejati harus menyudahi kesibukan berkata-kata tanpa pemahaman terhadap realitas. Kita memerlukan model pendidikan inspirasional yang mampu menghidupkan cahaya Ruh dalam diri setiap pembelajar. Tujuannya adalah melahirkan lulusan Ulul Albab yang digambarkan dalam QS. Ali Imran [3]:191 sebagai individu yang mampu menyatukan dzikir dan pikir secara dialektis; mereka yang mengingat Allah dalam setiap keadaan sekaligus melakukan observasi mendalam terhadap penciptaan alam semesta.
Hanya dengan menghidupkan Ruh melalui God Light dan membiasakan tradisi “berkata atas benda”, kita dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga agung secara spiritual dan memiliki keberadaban sosial yang nyata.
Referensi
Al Qur’an Al Karim
Al-Attas, S. M. N. (1978). Islam and Secularism. International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC).
Al-Ghazali, I. (1998). Ihya’ Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu-Ilmu Agama). (Terjemahan). Darul Ihya.
Iskandar. (2025). Ruhiologi Paradigma Baru Pendidikan Holistik Abad 21. Jambi: Samudra Inspirasi Ruhiologi.
Refleksi Pemikiran Prof. KH. Imam Suprayogo (2926)

