Prof. Iskandar Nazari (Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN Sutha Jambi _Founder Ruhiologi)
Dunia pendidikan pada milenium ketiga tengah menghadapi krisis eksistensial yang dipicu oleh dominasi paradigma materialistik. Pendidikan holistik muncul sebagai antitesis yang menawarkan pendekatan untuk membangun manusia secara utuh, mencakup aspek sosial-emosional, intelektual, moral, kreativitas, dan spiritual (Salisah et al., 2024). Di Indonesia, transformasi ini diperkuat oleh gagasan Ruhiologi dari Prof. Dr. Iskandar Nazari yang memosisikan ruh sebagai pusat pengendali seluruh kecerdasan manusia melalui Ruhiology Quotient (RQ) (Iskandar et al., 2019; 2025). Artikel ini membedah bagaimana kebijakan nutrisi fisik seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), metode pedagogi Deep Learning, dan Kurikulum Cinta bersinergi dalam mewujudkan keseimbangan jasmani dan rohani.
Kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG): Tantangan Antara Nutrisi dan Implementasi
Kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah bertujuan untuk mengatasi malnutrisi dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (Intelektual Madani, 2025). Dalam kacamata Ruhiologi, MBG merupakan upaya pemenuhan kebutuhan basyar (fisik) agar ruh dapat berfungsi optimal dalam belajar.
Analisis Dampak dan Tantangan MBG
Perspektif Maqashid Syariah memandang MBG sebagai manifestasi dari Hifz al-Nafs (perlindungan jiwa) dan Hifz al-‘Aql (perlindungan akal). Namun, kebijakan ini dikritik karena belum secara eksplisit mengintegrasikan dimensi spiritual dan edukasi nilai keagamaan, sehingga kontribusinya masih bersifat instrumental (Kompas, 14 Desember 2025). .
Ontologi Manusia dan Sinergi Nutrisi dalam Ruhiologi
Ruhiologi memandang manusia sebagai dualitas jasad dan ruh. Nutrisi fisik yang halal dan thayyib (seperti yang diupayakan dalam MBG) adalah prasyarat bagi kesehatan jasad, sementara nutrisi ruhiyah adalah asupan wajib bagi jiwa .
Makanan yang haram atau buruk secara gizi dapat menghambat transmisi pengetahuan dan mengeraskan hati. Sebaliknya, nutrisi ruhiyah melalui dzikir, doa, dan Kurikulum Cinta memberikan ketenangan batin yang tidak bisa digantikan oleh materi (Iskandar, 2022). Integrasi keduanya melahirkan Ruhiology Quotient (RQ), di mana kecerdasan intelektual (IQ), emosional (EQ) dan spritual (SQ) serta teknologi (AI) dibimbing oleh “suara hati kebenaran (GodLight)” yang bersumber dari ruh (Nazari, 2024).
Kurikulum Cinta: Mengembalikan Ruh Pendidikan yang Humanis
Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) merupakan inovasi Kementerian Agama RI yang menempatkan cinta sebagai inti proses belajar, mencakup dimensi spiritual, sosial, dan intelektual (Kemenag, 2025). Kurikulum ini hadir untuk memperbaiki ketidakseimbangan di mana siswa sering bersaing secara kognitif namun kering empati (Setyo et al., 2022).
Dalam perspektif Ruhiologi, Kurikulum Cinta adalah “jalan pulang” untuk menghidupkan nurani di tengah derasnya arus digitalisasi (UIN Walisongo, 2026). KBC dibangun di atas lima pilar utama yang disebut Panca Cinta:
-
Cinta kepada Tuhan: Mengembalikan makna spiritual belajar sebagai bentuk ibadah (rabbaniyyah).
-
Cinta kepada Diri dan Sesama: Menanamkan empati dan penghargaan terhadap martabat manusia.
-
Cinta kepada Ilmu Pengetahuan: Menumbuhkan rasa ingin tahu yang tulus (logos).
-
Cinta kepada Lingkungan: Kesadaran ekoteologi untuk menjaga kelestarian alam.
-
Cinta kepada Bangsa: Memperkuat nasionalisme melalui pengalaman mencintai sesama secara nyata.
Penerapan KBC mengubah peran guru dari sekadar pengajar materi menjadi pendidik jiwa (soul educator) yang menciptakan ruang belajar aman dan inklusif (IAIN Parepare, 2025).
Deep Learning: Transformasi Pedagogi Menuju Pemahaman Bermakna
Pendidikan abad 21 menuntut pergeseran dari hafalan dangkal (surface learning) menuju Deep Learning. Pendekatan ini menekankan pemahaman konsep yang mendalam, berpikir kritis, serta kemampuan menghubungkan teori dengan praktik kehidupan sehari-hari (Zain et al., 2025).
Integrasi Deep Learning dalam pendidikan holistik mencakup tiga pola utama:
-
Meaningful Learning: Siswa menghubungkan informasi baru dengan struktur kognitif yang sudah ada melalui proyek nyata (Wahyuni, 2019).
-
Mindful Learning: Proses belajar yang penuh kesadaran dan refleksi terhadap nilai-nilai yang dipelajari.
-
Joyful Learning: Menciptakan ekosistem belajar yang menyenangkan dan bebas dari tekanan berlebihan (Fitriani & Santiani, 2025).
Dalam kerangka Ruhiologi, Deep Learning bukan sekadar teknik kognitif, melainkan proses transformasi karakter di mana pengalaman dan refleksi intrinsik siswa menjadi pusat pembelajaran (Liu et al., 2022). Tantangan utamanya terletak pada kesiapan dosen/guru yang masih sering terjebak dalam metode ceramah konvensional (Fullan et al., 2018).
Kesimpulan
Pendidikan Holistik Abad 21 yang ideal memerlukan sinkronisasi antara kebijakan material seperti MBG dengan transformasi pedagogis melalui Deep Learning dan revitalisasi nilai melalui Kurikulum Cinta. Tantangan logistik dan fiskal dalam MBG harus diatasi dengan manajemen yang akuntabel agar nutrisi fisik benar-benar menjadi fondasi bagi pertumbuhan intelektual. Di sisi lain, Deep Learning dan Kurikulum Cinta memastikan bahwa kecerdasan yang dihasilkan tidak bebas nilai, melainkan terikat pada etika transendental Ruhiologi. Dengan demikian, lembaga pendidikan tidak hanya melahirkan tenaga kerja produktif, tetapi manusia kaffah yang sehat secara fisik, cerdas secara mental, dan kokoh secara spiritual.
Referensi:
CELIOS. (2024). Laporan Makan Bergizi Gratis: Antara Harapan dan Risiko Fiskal. Center of Economic and Law Studies.
Fitriani, N., & Santiani, S. (2025). Keterkaitan Deep Learning dengan Pengembangan Keterampilan 4C. Jurnal Sisfotenika, 15(2), 210-220.
Intelektual Madani. (2025). Dampak Program Makan Bergizi Gratis terhadap Keberlanjutan Pendidikan. Journal of Education Research, 5(2), 130-145.
Iskandar, I., Aletmi, A., & Sastradika, D. (2019). Pendidikan Holistik Berbasis Kecerdasan Ruhiologi di Era Revolusi Industri 4.0. Tarbawi: Jurnal Ilmu Pendidikan, 15(2), 223-231.
Iskandar. (2025) Ruhiologi Paradigma Baru Pendidikan Holistik Abad 21. Jambi: Samudra Inspirasi Ruhiologi
Kementerian Agama RI. (2025). Panduan Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di Madrasah. Jakarta: Dirjen Pendis.
https://www.kompasiana.com/ekaahadi4263/692f0599c925c45c80672a42/mbg-dalam-perspektif-maqashid-syariah-memenuhi-hifdz-al-nafs-dan-hifdz-al-insan-di-era-modern
Salisah, S., et al. (2024). Paradigma Baru Pendidikan Agama Holistik dan Futuristik. Jurnal Pendidikan Islam, 12(1), 45-60.
UIN Walisongo. (2025). Kurikulum Berbasis Cinta sebagai Ruh Pendidikan. Portal Berita UIN Walisongo.
Wahyuni, S. (2025). Dampak Program MBG terhadap Konsentrasi Belajar. Jurnal Basicedu, 9(3), 10744-10755.
Zain, M. F., & Akbar, M. S. (2025). Implementasi Deep Learning untuk Meningkatkan Hasil Pembelajaran. Research and Development Journal of Education, 11(1), 302-309.

