Refleksi Obrolan Pemikiran Prof. KH. Imam Suprayogo (Tokoh Pendidikan Nasional) Oleh: Prof. Iskandar Nazari (Founder Ruhiologi & CEO Samudra Inspirasi Ruhiologi)
Kita sering terpukau oleh deretan gelar akademik, sorban yang melilit, atau seragam jabatan yang mentereng. Kita berasumsi bahwa mereka yang berada di puncak strata sosial profesor, kiai, hingga pejabat tinggi adalah prototipe manusia rukun. Namun, realitas seringkali menampar kita dengan kenyataan pahit: perseteruan justru kerap lahir dari mereka yang setiap harinya memberikan ceramah tentang kedamaian. Mengapa kerukunan menjadi barang mewah yang sangat sulit diwujudkan, bahkan oleh mereka yang “berilmu”?
Sangat mudah untuk mengucapkan kata “rukun”, namun amat berat untuk menjalankannya. Kegagalan ini membuktikan satu hal: kerukunan tidak bisa diproduksi hanya melalui kurikulum pendidikan, kursus kepemimpinan, atau sekadar nasihat-nasihat normatif.
Prof. KH. Imam Suprayogo menangkap sebuah fenomena unik: banyak tokoh agama yang setiap hari menasihati orang lain untuk bersatu, justru terjebak dalam pertengkaran antar sesama. Mengapa hal indah ini diingkari oleh pelakunya sendiri? Jawabannya terletak pada keterputusan antara perilaku lahiriah dan kesadaran ruhaniyah.
Al-Qur’an memberikan petunjuk yang sangat tajam mengenai akar persoalan ini. Umat Islam diwajibkan menghadap satu titik (Kiblat) lima kali sehari. Namun, seringkali perintah ini dijalankan secara parsial. Secara fisik tubuh menghadap Maqam Ibrahim sebagaimana perintah:
“…Dan jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim itu tempat shalat…” (QS. Al-Baqarah: 125)
Namun secara ruhani, ingatan dan kesadaran terbang ke mana-mana. Inilah yang diingatkan dalam Al-Qur’an bahwa jika shalat hanya menjadi rutinitas fisik tanpa kehadiran ruh, hasilnya tidak lebih dari sekadar kesia-siaan:
“Dan shalat mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan…” (QS. Al-Anfal: 35)
Artinya, shalat yang demikian tidak akan mampu mengubah perilaku pelakunya. Bahkan, mereka yang tubuhnya sujud tapi pikirannya melanglang buana diingatkan sebagai sebuah ironi bagi orang berilmu:
“Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab? Tidakkah kamu mengerti?” (QS. Al-Baqarah: 44)
Meminjam perspektif Ruhiologi yang digagas Prof. Iskandar, kerukunan sejati mustahil dicapai jika hanya mengandalkan aspek material seperti organisasi, baju seragam, atau arahan birokrasi. Kerukunan adalah hasil dari Resonansi Ruhani. Kerukunan harus dimulai dari “merukunkan” ruhani manusia. Selama ruh setiap individu bertebaran di tempat yang berbeda-beda (mengejar ego, syahwat, dan kepentingan masing-masing), maka gesekan akan terus terjadi.
Sebagaimana perintah untuk memalingkan wajah (ingatan) ke Masjidil Haram:
“…Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram…” (QS. Al-Baqarah: 144)
Maka manusia harus melatih ruhaninya untuk selalu berada di “Satu Tempat Kesatuan” (Kesadaran Ketuhanan). Shalat Khusyu’ adalah fondasinya. Hanya melalui aktivitas ruhaniyah yang berkualitas, manusia bisa mengintegrasikan kembali kepingan egonya menuju titik nol di hadapan Sang Khalik.
Jika ruh-ruh manusia sudah berada di tempat kesatuan yang sama, maka secara otomatis perilaku lahiriahnya akan selaras. Persatuan tidak bisa dipaksakan dari luar melalui regulasi, melainkan harus tumbuh dari dalam melalui pembersihan frekuensi ruhani.
Mari berhenti mengejar kerukunan semu yang hanya tampak di permukaan. Saatnya kita kembali ke petunjuk kitab suci: merujuk pada satu kiblat, tidak hanya dengan raga, tapi dengan ruh yang benar-benar “pulang” ke hadapan-Nya. Karena hanya di titik itulah, perbedaan tak lagi menjadi perseteruan, melainkan sebuah simfoni kedamaian.

