Site icon samudraruhiologi.com

Fenomena Gunung Es Pendidikan Jambi: Trobosan Ruhiologi untuk Reformulasi Pendidikan Nasional

Oleh: Prof. Iskandar Nazari

(Guru Besar Psikologi Pendidikan _Founder Ruhiologi & CEO Samudra Inspirasi Ruhiologi)

Dunia pendidikan Jambi Indonesia belakangan ini sedang dirundung duka. Dua kasus viral tragedi pengeroyokan guru di SMK Kab. Tanjung Jabung Timur dan kriminalisasi disiplin di SD Kab. Muaro Jambi hanyalah bongkahan es yang nampak di permukaan. Di bawahnya, terdapat gunung es raksasa berupa krisis karakter, erosi adab, dan runtuhnya marwah pendidikan nasional yang siap menenggelamkan masa depan generasi kita.

Saat konflik pecah, solusi yang diambil seringkali bersifat “pemadam kebakaran”: memindahkan guru ke sekolah lain atau sekadar menghentikan kasus hukum. Namun pertanyaannya, apakah masalahnya selesai? Secara administratif, mungkin ya. Namun secara perspektif Ruhiologi, luka itu justru sedang menganga. Memindahkan orang tanpa memperbaiki sistem ibarat memindahkan bibit yang sakit ke tanah yang berbeda; ia akan tetap sulit tumbuh jika akarnya sudah rapuh.

Dalam kacamata Ruhiologi, pendidikan bukan sekadar transfer informasi dari otak guru ke otak siswa. Pendidikan adalah Resonansi Ruhani. Ketika seorang guru menegur, seharusnya yang berbicara adalah rasa kasih sayang (Rahmah). Ketika siswa mendengarkan, seharusnya yang merespons adalah rasa hormat (Ta’dzim).

Fenomena kekerasan di sekolah menunjukkan bahwa frekuensi ini telah putus. Sekolah telah berubah menjadi “pabrik ijazah” yang dingin. Guru merasa terancam oleh hukum, sementara siswa kehilangan figur teladan. Kita harus sadar bahwa memindahkan guru hanyalah solusi fisik, namun memperbaiki jiwa adalah solusi esensi.

1. Analisis Akar Masalah: Pendidikan yang “Mati Rasa”

Mengapa pendidikan kita melahirkan kekerasan? Karena sistem kita saat ini mengalami Penyumbatan Aliran Ruhani.

  • Fragmentasi Kecerdasan: Kita memuja IQ (Intelektual) untuk mengejar angka, melatih EQ (Emosional) untuk basa-basi sosial, dan mengagungkan AI (Teknologi) sebagai Berhala Digital. Bahkan SQ (Spiritual Quotient) seringkali terjebak menjadi “kesalehan yang kering” rajin ritual tapi miskin empati.

  • Hilangnya Resonansi: Guru tidak lagi hadir sebagai sosok yang membawa cahaya (Nur), melainkan hanya operator borang akreditasi. Siswa tidak lagi memandang guru sebagai pintu ilmu, melainkan hanya penyedia konten.

  • SQ Tanpa RQ: Kesalehan yang selama ini diajarkan di sekolah berhenti pada formalitas. Tanpa RQ (Ruhiologi Quotient), spiritualitas tidak memiliki daya gerak untuk mengubah karakter. SQ tanpa RQ adalah kesalehan individu yang pasif; ia tidak mampu menyambungkan batin antara guru dan murid.

2. Tawaran Solusi: RQ sebagai “Grand Connector”

Jambi harus mempelopori reformulasi pendidikan nasional dengan memperkenalkan RQ (Ruhiologi Quotient) sebagai jembatan yang merekatkan IQ, EQ, SQ, dan AI ke dalam satu frekuensi Berkesadaran Ketuhanan.

Dalam sistem ini, teknologi (AI) tidak lagi mendewa manusiawi manusia, dan kecerdasan otak (IQ) tidak membuat orang sombong, karena semuanya dikendalikan oleh kejernihan ruh (RQ).

3. Membangun Ekosistem Pendidikan Ruhani

Solusi yang menyentuh bukan hanya soal kurikulum, tapi pembangunan ekosistem yang koheren:

  • Model Guru “RuhIO Mudarris Peradaban”: Kita harus merombak standar kompetensi guru. Guru bukan buruh kurikulum. Guru adalah sosok Intelektual Berkesadaran Ketuhanan. Syarat mengajar bukan lagi sekadar ijazah, tapi kematangan Ruhani. Guru harus menjadi “Buku Hidup” yang beresonansi dengan jiwa muridnya dengan pancaran hati nurani (GodLight) berkesadaran ketuhanan.

  • Kontrak Ruhani (Bukan Kontrak Hukum): Di sekolah berbasis Ruhiologi, orang tua dan sekolah terikat secara batin. Orang tua menyerahkan anak untuk dididik jiwanya. Jika ada gesekan, penyelesaiannya adalah melalui “Dialog Ruhani” (tabayyun), bukan laporan polisi.

  • Borang Akreditasi Karakter: Pengelola sekolah tidak boleh hanya dinilai dari fasilitas fisik, tapi dari “Indeks Kedamaian Sekolah”. Seberapa sering terjadi konflik? Seberapa tinggi empati di lingkungan tersebut? Itulah ukuran kesuksesan yang asli.

  • Stakeholder sebagai Penjaga Marwah: Pemerintah dan aparat hukum harus memandang sekolah sebagai “Zona Suci” (Sanctuary of Soul). Kriminalisasi guru adalah serangan terhadap jantung peradaban.

4. Trobosan dari Jambi untuk Indonesia

Jambi memiliki modalitas agung: “Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah”. Inilah akar Ruhiologi. Kita menawarkan Jambi sebagai Laboratorium Nasional Pendidikan Beradab. Kita tidak ingin melahirkan robot yang pintar coding tapi tega memukul guru. Kita ingin melahirkan manusia yang tangguh dengan teknologi, namun sujud di hadapan Sang Pencipta.

Reflektif Ruhiologis

Akar masalah kita adalah krisis frekuensi. Kita gagal menyambungkan ruh pendidikan, guru, murid, dan orang tua. Memindahkan guru adalah solusi fisik yang sia-sia jika sistemnya masih “mati rasa”. Saatnya Jambi memimpin perubahan dengan mengembalikan Ruh ke dalam tubuh pendidikan kita.

Exit mobile version