Site icon samudraruhiologi.com

Epistemologis “RUHUL MUDARRIS”: Menggugat Jasad Pendidikan Modern melalui “RUHIOLOGI”

Oleh: [Prof. Iskandar] (Guru Besar Psikologi Pendidikan, Founder Ruhiologi, CEO ‘SIR’ Samudra Inspirasi Ruhiologi)

Melampaui Berhala Formalisme
Pendidikan modern hari ini tampak maju secara kasat mata. Kurikulum semakin rapi, teknologi pembelajaran semakin canggih, dan kecerdasan buatan mulai masuk ke ruang kelas. Namun di balik semua kemajuan itu, muncul kegelisahan yang sulit disangkal: sekolah semakin efisien, tetapi manusia di dalamnya semakin lelah, kering, stres, depresi, gangguan mental meningkat dan kehilangan makna (WHO: 2024).
Fenomena ini oleh banyak pemikir disebut sebagai krisis identitas, nilai dan makna pendidikan. Seyyed Hossein Nasr sejak lama mengingatkan bahwa pendidikan modern mengalami keterputusan dari dimensi sakral, sehingga ilmu kehilangan orientasi etik dan spiritualnya (Nasr, 1997). Pendidikan akhirnya hanya memproduksi kecakapan teknis, bukan kebijaksanaan hidup.
Diskursus pendidikan kontemporer saat ini mengalami “obesitas instrumen” namun “malnutrisi spiritual”. Fokus berlebih pada standarisasi kurikulum (materi) dan digitalisasi instruksional (metode) telah mereduksi peran guru menjadi sekadar teknisi atau operator data. Artikel ini membedah hierarki pedagogis melalui kacamata ruhiologi, menempatkan Ruhul Mudarris (Ruh Pendidik) bukan hanya sebagai pelengkap, melainkan sebagai inti energi (pusat gravitasi) kesadaran ketuhanan yang menentukan hidup atau matinya sebuah proses transformasi manusia.
Dalam konteks inilah Ruhiologi mengajukan sebuah pertanyaan mendasar: di mana ruh pendidikan kita hari ini?

Ruhul Mudarris: Jantung yang Terlupakan dalam Sistem Pendidikan
Tradisi pendidikan pesantren sebenarnya telah lama menjawab pertanyaan ini. Sebuah adagium legendaris dari Pondok Modern Darussalam Gontor menyatakan: Al-maddah muhimmah, walakin ath-thariqah ahammu minal maddah, wal mudarris ahammu min ath-thariqah, wa ruhul mudarris ahammu minal mudarris nafsihi. bukan sekadar jargon puitis masa lalu. Ia adalah sebuah gugatan epistemologis terhadap arah pendidikan hari ini yang cenderung mendewakan “jasad” (formalitas) dan membunuh “nyawa” (substansi spiritual) diwariskan oleh Zarkasyi (2005). Di tengah arus mekanisasi ini, kita dipaksa menyadari bahwa tanpa transmisi jiwa, pendidikan hanyalah sebatas transaksi informasi yang tak berbekas. Materi itu penting, metode lebih penting, guru lebih penting, tetapi ruh guru jauh lebih penting dari guru itu sendiri.
Jika kita membedah lapisan pendidikan sebagai sebuah lingkaran konsentris, kita akan menemukan degradasi makna jika bergerak dari luar ke dalam, seperti digambarkan berikut:

1. Materi (Al-Maddah): Hanya seonggok benda mati berupa informasi dan data.
2. Metode (Ath-Thariqah): Hanyalah pipa penyalur yang sering kali dianggap sebagai “tuhan” baru dalam inovasi pedagogi.
3. Guru (Al-Mudarris): Sering kali terjebak menjadi “operator” yang hanya hadir secara raga namun absen secara makna.
4. Ruh Guru (Ruhul Mudarris): Inilah pusat energi. Tanpa lapisan terdalam ini, pendidikan hanya akan menghasilkan robot-robot pintar yang piawai menjawab soal namun buta terhadap Nurani.

Melalui Kyai Sahal sesepuh pendidikan Pondok Pesantren Gontor penah berpesan; “at-thariqah ahammu minal maddah, wal mudarris ahammu minat thariqah, wa ruhul mudarris ahammu minal mudarris nafsihi”. Arti dari prinsip tersebut adalah “materi Ilmu itu penting, namun metode lebih penting dari materi. Metode itu penting, namun guru lebih penting dari metode. Guru itu penting, namun jiwa, ruh (karakter) guru jauh lebih penting dari guru itu sendiri (Kompasiana.com: 2021).

Secara ruhiologis, lapisan “Ruh Guru” adalah sumber resonansi. Jika pusatnya padam, maka seluruh lapisan luar (metode dan materi) hanyalah sampah administrasi yang tidak memiliki daya ubah (transformatif).
Dalam perspektif Ruhiologi, Ruhul Mudarris (ruh pendidik) bukan sekadar pelengkap moral, melainkan pusat energi kesadaran pendidikan. Ketika ruh guru hidup, ilmu menjadi cahaya. Ketika ruh guru mati, pendidikan berubah menjadi rutinitas administratif tanpa daya ubah.
Guru yang hadir hanya secara fisik, tetapi absen secara batin, pada hakikatnya sedang mengajar tanpa ruh. Ia mungkin menyampaikan materi, tetapi gagal mentransformasikan manusia.

Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Ilmu, tetapi Transfer Kesadaran
Psikolog pendidikan Parker J. Palmer menegaskan bahwa mengajar tidak pernah netral; ia selalu memancar dari kedalaman batin pendidiknya. “We teach who we are,” tulis Palmer kita mengajar dari siapa diri kita sebenarnya (Palmer, 1998).
Ruhiologi sejalan dengan pandangan ini, bahkan melangkah lebih jauh. Proses belajar-mengajar bukan hanya transfer kognisi, melainkan transfer kesadaran dan resonansi batin. Murid tidak hanya mendengar apa yang diucapkan guru, tetapi merasakan siapa guru itu.
Di sinilah Ruhul Mudarris bekerja: melalui keikhlasan, keteladanan, dan integritas batin yang memancar secara halus namun kuat.
Imam Al-Ghazali sejak abad ke-11 telah menegaskan bahwa ilmu sejati adalah nur cahaya yang Allah letakkan di dalam hati (Al-Ghazali). Guru dalam hal ini bukan sekadar penyampai informasi, melainkan konduktor cahaya.

Ketika AI Masuk Kelas: Siapa yang Menjaga Nurani?
Tantangan pendidikan hari ini semakin kompleks dengan hadirnya Artificial Intelligence. AI mampu mengoreksi jawaban, menganalisis perilaku belajar, bahkan merekomendasikan jalur pendidikan. Namun AI tidak memiliki nurani.
Tanpa Ruhul Mudarris, pendidikan berisiko tergelincir menjadi proses mekanistik: efisien, cepat, tetapi kehilangan kemanusiaan. Murid diperlakukan sebagai data, bukan sebagai jiwa yang sedang tumbuh.
Ruhiologi tidak menolak teknologi, tetapi menegaskan satu prinsip penting: teknologi harus tunduk pada kesadaran ruhani. Di sinilah konsep AI Awareness berbasis RQ menjadi relevan kesadaran bahwa manusia harus tetap menjadi subjek moral, bukan objek algoritma (Iskandar, 2025).
Guru dengan Ruhul Mudarris yang hidup akan mampu menggunakan AI sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti jiwa.
Dari Guru Profesional ke Guru Berjiwa
Pendidikan abad ke-21 sering berbicara tentang profesionalisme guru. Namun profesionalisme tanpa kedalaman kesadaran ruhani justru melahirkan kekosongan. Guru menjadi pekerja, bukan pendidik; pengajar, bukan pembentuk manusia.
Ki Hadjar Dewantara telah lama mengingatkan bahwa pendidikan adalah proses menuntun segala kekuatan kodrat anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai manusia dan anggota masyarakat (Dewantara, 1962). Tuntunan ini hanya mungkin dilakukan oleh guru yang hadir dengan jiwa, bukan sekadar kompetensi teknis.
Ruhiologi menempatkan Ruhul Mudarris sebagai fondasi pendidikan holistik: menghidupkan IQ, menyeimbangkan EQ, memaknai SQ, dan menyelaraskannya melalui RQ.
Jika pendidikan ingin kembali memuliakan kemanusiaan manusia, maka reformasi sejatinya tidak dimulai dari kurikulum, tetapi dari kesadaran pendidik. Di sanalah Ruhiologi berdiri menghidupkan kembali ruh pendidikan di tengah dunia yang semakin mekanis.

Referensi
Iskandar. (2025). Ruhiologi: Paradigma baru pendidikan holistik abad ke-21 (RQ). Jambi: Samudra Inspirasi Ruhiologi.
Al-Ghazali, I. Ihya’ ‘Ulum al-Din: Kitab al-‘Ilm. Dar Al-Minhaj.
Dewantara, K. H. (1962). Karya Ki Hadjar Dewantara, Bagian I: Pendidikan. Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.
Nasr, S. H. (1997). Man and nature: The spiritual crisis of modern man. ABC International Group.
Palmer, P. J. (1998). The courage to teach: Exploring the inner landscape of a teacher’s life. Jossey-Bass.
Zarkasyi, I. (2005). Pekan perkenalan di Pondok Modern Darussalam Gontor. Darussalam Press.
https://www.kompasiana.com/rosnendya78594/619fbba1733c433fcc0ef8a2/ruh-para-guru.

Exit mobile version