Oleh: Prof. Iskandar
Guru Besar Psikologi Pendidikan | Founder Ruhiologi | CEO Samudra Inspirasi Ruhiologi
Ketika Dunia Terlihat Baik, Tetapi Jiwa Diam-Diam Retak
Kita hidup pada zaman yang tampak serba maju, namun diam-diam rapuh. Teknologi memudahkan hidup, kecerdasan buatan mempercepat pekerjaan, dan informasi tersedia tanpa batas. Namun di balik kemajuan itu, kegelisahan manusia justru meningkat. Kecemasan, kelelahan mental, dan krisis makna menjadi epidemi sunyi (WHO: 2022).
Masalah utama manusia hari ini sering kali bukan dunia luar, melainkan dunia dalam. Pikiran berisik, emosi tidak stabil, dan hati kehilangan pusat. Dalam kerangka Ruhiologi, kondisi ini disebut turbulensi nafsani kekacauan batin yang muncul ketika manusia tercerabut dari kesadaran ruhani.
Turbulensi ini tidak cukup disembuhkan dengan teknik kognitif, afirmasi motivasional, atau produktivitas semu. Ia membutuhkan arsitektur ketenangan, sebuah tatanan batin yang berakar pada kesadaran ruhani. Di sinilah Ruhiology Quotient (RQ) menemukan relevansinya.
God-Consciousness: Fondasi Psikologis Ketenangan
Dalam Ruhiologi, ketenangan tidak lahir dari kontrol penuh atas hidup, tetapi dari kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap momen. Inilah God-Consciousness kesadaran ilahiah yang menempatkan manusia kembali pada posisi ontologisnya: hamba yang berikhtiar, bukan penguasa mutlak.
Penelitian Vahdat dan Aligard (2021) menunjukkan bahwa spiritualitas Islam berkontribusi signifikan terhadap penurunan depresi dan kecemasan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan psikologis. Temuan ini sejalan dengan prinsip Ruhiologi bahwa kegelisahan modern sering bersumber dari keterputusan manusia dengan dimensi transenden.
Al-Qur’an menegaskan prinsip ini secara sederhana namun mendalam:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
RQ bekerja dengan mengembalikan manusia ke waktu kini satu-satunya ruang tempat kesadaran ruhani dapat hidup. Masa lalu dilepaskan, masa depan diikhtiarkan, dan hati ditambatkan pada Allah.
Sabr: Kecerdasan Ruhani dalam Mengelola Tekanan
Kesabaran sering direduksi menjadi sikap pasif. Dalam Ruhiologi, sabr adalah kecerdasan ruhani yang aktif. Ia adalah kemampuan menciptakan jeda sadar antara stimulus dan respons.
Psikologi kontemporer menunjukkan bahwa praktik spiritual yang bermakna memperkuat regulasi emosi dan ketahanan mental (Pargament, 2013). Dalam perspektif neurosains, zikir dan shalat yang dilakukan dengan kesadaran membantu menurunkan reaktivitas amigdala pusat stres dan ketakutan.
Al-Qur’an menempatkan sabr sebagai sumber daya eksistensial:
“Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al-Baqarah: 45)
Dalam istilah Ruhiologi, sabr adalah ruang sakral batin, tempat manusia tidak dikendalikan oleh emosi, tetapi dipandu oleh kesadaran ruhani.
Iqra’ Bismirabbik: Membaca Ulang Hidup dengan Kesadaran Ruhani
Manusia modern rajin membaca data, tetapi lalai membaca makna. Banyak orang membaca hidup dengan narasi kegagalan dan kecemasan. Ruhiologi mengajak manusia kembali pada perintah pertama wahyu: Iqra’ Bismirabbik membaca realitas dengan nama Tuhan.
Membaca Al-Qur’an dan mentadabburinya terbukti berkorelasi dengan makna hidup dan kepuasan eksistensial (Vahdat & Aligard, 2021). Dalam Ruhiologi, proses ini dipahami sebagai reprogramming narasi batin. Masalah tidak lagi dimaknai sebagai hukuman, tetapi sebagai proses pendewasaan ruhani.
Shalat: Titik Sinkronisasi Ruh, Akal, dan Emosi
Di tengah dunia yang bising oleh notifikasi dan algoritma, shalat hadir sebagai titik henti eksistensial. Ia adalah momen penyelarasan ulang antara ruh, akal, dan raga.
Ruhiologi memandang shalat sebagai laboratorium ketenangan, tempat manusia membersihkan beban emosi yang menumpuk dalam keseharian. Shalat yang hidup akan berdampak langsung pada stabilitas mental dan kualitas relasi sosial.
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)
RQ di Era AI: Kesadaran Ruhani Menghadapi Algoritma
Kecerdasan buatan mampu berpikir cepat, memprediksi perilaku, dan mempengaruhi keputusan manusia. Tantangan terbesar manusia bukan lagi kekurangan informasi, tetapi kehilangan kendali atas kesadarannya sendiri.
Di sinilah AI Awareness berbasis RQ menjadi krusial. RQ memastikan manusia tetap menjadi subjek moral, bukan objek algoritma. Teknologi boleh cerdas, tetapi arah hidup harus tetap ditentukan oleh nurani.
Tanpa RQ, manusia mudah menjadi budak algoritma. Dengan RQ, manusia tetap menjadi tuan atas pikirannya.
Menata Dunia Batin, Menghadapi Dunia Zaman dengan pendekatan Ruhiologi yang sederhana namun mendasar:
siapa yang mampu menata dunia di dalam dirinya, akan lebih siap menghadapi dunia di luar dirinya.
Pikiran adalah alat, bukan tuan.
Teknologi adalah sarana, bukan penentu makna.
RQ adalah kompas ruhani agar manusia tidak tersesat di tengah kecanggihan zaman.
Perbaikilah shalatmu, hidupkan RQ-mu, dan kuatkan AI Awareness berbasis nurani.
Di sanalah ketenangan bukan dicari, tetapi dibangun.
Referensi:
Iskandar. (2025). Ruhiologi: Paradigma baru pendidikan holistik abad ke-21 (RQ). Jambi: Samudra Inspirasi Ruhiologi.
Pargament, K. I. (2013). Spiritually integrated psychotherapy: Understanding and addressing the sacred. New York, NY: Guilford Press.
Vahdat, Z., & Aligard, T. (2021). The role of Islamic spirituality in enhancing mental health: A systematic review. Journal of Religion and Health, 60(4), 2701–2718. https://doi.org/10.1007/s10943-020-01164-8
World Health Organization. (2022). Guidelines on mental health at work. Geneva: WHO.

