Site icon samudraruhiologi.com

Apapun Profesimu, Di Sanalah Titik Resonansi Ketuhananmu

oplus_0

Oleh: Prof. Iskandar Nazari (Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN Sutha Jambi _Founder Ruhiologi & CEO Samudra Inspirasi Ruhiologi)

Pernahkah Anda merasa lelah yang luar biasa, padahal pekerjaan baru saja dimulai? Atau merasa hampa, padahal target dan angka-angka pencapaian telah terpenuhi?

Banyak dari kita hidup dalam dualitas yang menyiksa: kita memisahkan antara “ruang suci” saat beribadah dan “ruang sekuler” saat bekerja. Kita menganggap Tuhan hanya ada di atas sajadah di keheningan malam, namun seolah absen di riuhnya pasar, di penatnya ladang, atau di dinginnya meja kantor. Inilah tragedi kemanusiaan modern ketika kerja kehilangan ruh dan ibadah kehilangan konteks.

Dalam perspektif Ruhiologi, dualitas ini harus diakhiri. Kita harus berani berkata pada diri sendiri: “Berhentilah memisahkan kerja dan ibadah!”

Profesi Sebagai “Sajadah” Semesta, apapun profesi yang Anda jalani hari ini, itu bukanlah sebuah kebetulan. Itu adalah mandat batin. Meja kerjamu, ladangmu, dan daganganmu sejatinya adalah hamparan sajadah tempatmu melakukan dialog tanpa kata dengan Sang Pencipta.

Bagi sang Petani: Setiap ayunan cangkul dan benih yang tertanam adalah bentuk kepasrahan total kepada Sang Maha Menumbuhkan (Al-Baari’). Di sela peluh, ada zikir yang beresonansi dengan tanah.

Bagi sang Pedagang: Setiap transaksi bukan sekadar pertukaran materi, melainkan ujian kejujuran batin (Shiddiq). Di sana, ia sedang mencerminkan sifat Sang Maha Pemberi Rezeki (Ar-Razzaq).

Bagi sang Guru/ Dosen dan Siswa/Mahasiswa: Ruang kelas adalah medan energi tempat cahaya ilmu (Tabligh) dipancarkan untuk mengenali keagungan Sang Maha Mengetahui (Al-’Alim).

Bagi sang Pemimpin: Kebijakan yang diambil adalah instrumen untuk menghadirkan keadilan Sang Maha Adil (Al-‘Adl) di muka bumi.

Nurani yang Merindukan Cahaya
Masalah kita bukanlah kurangnya motivasi atau keahlian, melainkan putusnya kabel resonansi. Kita membiarkan batin gersang karena hanya mengejar angka, sementara Nurani kita sebenarnya merindukan cahaya. Saat kita bekerja hanya untuk angka, kita menjadi hamba dari angka tersebut. Namun, saat kita bekerja dengan kesadaran, kita menjadi hamba-Nya yang sedang menebar rahmat.

Ruhiologi mengajak kita untuk menghidupkan kembali sifat kenabian dalam setiap helai aktivitas:

Shiddiq: Bekerja dengan otentisitas, tanpa topeng kamuflase.

Amanah: Menjaga stabilitas rasa bahwa setiap tugas adalah titipan suci.

Tabligh: Menjadikan hasil kerja sebagai resonansi kebaikan bagi sesama.

Fathanah: Menggunakan hikmah ilahi untuk melahirkan solusi kreatif di setiap kebuntuan.

Mari Pulang ke Satu Frekuensi; Apapun profesimu baik engkau seorang buruh yang memeras keringat atau pejabat yang memegang pena ingatlah bahwa di sanalah titik resonansi ketuhananmu. Jangan biarkan duniamu memadamkan akhiratmu. Jangan biarkan kesibukanmu menjauhkanmu dari Sang Pemilik Nafas.

Dunia tidak kekurangan orang pintar, tapi dunia kekurangan orang yang berkesadaran. Saat tanganmu bekerja, biarkan hatimu tetap “pulang” ke sumber cahaya. Selaraskan getaran batinmu, sambungkan kembali kabel yang sempat terputus itu.

Mari bekerja dengan satu frekuensi: Frekuensi Ketuhanan. Sebab pada akhirnya, semua kerja keras kita akan bermuara pada satu pertanyaan: Seberapa jernih cahaya-Nya yang terpancar melalui profesimu?

Salam Ruhiologi, Samudra Inspirasi Ruhiologi (SIR)

Exit mobile version